glory

Umar bin abdul aziz membawa kejayaan

Umar bin abdul aziz adalah cucu umar bin khattab, Pada usia 24 tahun, Umar diangkat menjadi Gubernur Hejaj yang berkedudukan di Madinah tahun 87 H oleh Khalifah ke-6 Bani Umayyah, al-Walid bin Abdul Malik (al-Walid I).
Penampilan Umar sangat berbeda dengan gubernur-gubernur lain. Ia sangat adil dalam memerintah. Ketika tiba di Madinah, langkah pertamanya adalah membentuk sebuah Dewan Penasihat, beranggotakan para tokoh ulama yang berpengaruh di Madinah. Di dewan itulah ia bermusyawarah tentang berbagai persoalan seperti urusan agama, rakyat, dan pemerintahan.

Masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz. (99-102 H/818-820 M). Meskipun masa Kekhilafahannya cukup singkat, hanya 3 tahun, umat Islam terus mengenangnya sebagai khalifah yang berhasil menyejahterakan rakyat. Ibnu Abdil Hakam (Sîrah ‘Umar bin Abdul ‘Azîz, hlm. 59) meriwayatkan, Yahya bin Said, seorang petugas zakat masa itu, berkata, “Saya pernah diutus Umar bin Abdul Aziz untuk memungut zakat ke Afrika. Setelah memungutnya, saya bermaksud memberikannya kepada orang-orang miskin. Namun, saya tidak menjumpai seorang miskin pun. Umar bin Abdul Aziz telah menjadikan setiap individu rakyat pada waktu itu berkecukupan.” (Al-Qaradhawi, 1995).

Pada masanya, kemakmuran tidak hanya ada di Afrika, tetapi juga merata di seluruh penjuru wilayah Khilafah Islam, seperti Irak dan Bashrah. Abu Ubaid (Al-Amwâl, hlm. 256) mengisahkan, Khalifah Umar bin Abdul Aziz pernah mengirim surat kepada Hamid bin Abdurrahman, Gubernur Irak saat itu, agar membayar semua gaji dan hak rutin di propinsi itu. Dalam surat balasannya, Abdul Hamid berkata, “Saya sudah membayarkan semua gaji dan hak mereka. Namun, di Baitul Mal masih terdapat banyak uang.”

Khalifah Umar memerintahkan, “Carilah orang yang dililit utang tetapi tidak boros. Berilah dia uang untuk melunasi utangnya.”

Abdul Hamid kembali menyurati Khalifah Umar, “Saya sudah membayarkan utang mereka, tetapi di Baitul Mal masih banyak uang.”

Khalifah memerintahkan lagi, “Kalau ada orang lajang yang tidak memiliki harta lalu dia ingin menikah, nikahkan dia dan bayarlah maharnya.”

Abdul Hamid sekali lagi menyurati Khalifah, “Saya sudah menikahkan semua yang ingin menikah. Namun, di Baitul Mal ternyata masih juga banyak uang.”

Akhirnya, Khalifah Umar memberikan pengarahan, “Carilah orang yang biasa membayar jizyah dan kharaj. Kalau ada yang kekurangan modal, berilah mereka pinjaman agar mampu mengolah tanahnya. Kita tidak menuntut pengembaliannya kecuali setelah dua tahun atau lebih.” (Al-Qaradhawi, 1995).

Sementara itu, Gubernur Bashrah pernah mengirim surat kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz, “Semua rakyat hidup sejahtera sampai saya sendiri khawatir mereka akan menjadi takabur dan sombong.”

Khalifah Umar dalam surat balasannya berkata, “Allah ‘Azza wa Jalla ridha kepada penghuni surga karena mereka berkata, ‘Segala pujian milik Allah yang telah memenuhi janji-Nya.’ (QS az-Zumar [39]: 74). Karena itu, suruhlah orang yang menjumpaimu untuk memuji Allah Swt.” (Al-Qaradhawi, 1995).

Meski rakyatnya makmur, seperti halnya kakeknya (Umar bin al-Khaththab), Khalifah Umar bin Abdul Aziz tetap hidup sederhana, jujur, dan zuhud. Bahkan sejak awal menjabat khalifah, beliau menjual semua kekayaannya seharga 23.000 dinar (hampir Rp 20 miliar), lalu menyerahkan semua uang hasil penjualannya ke Kas Negara. (Al-Baghdadi, 1987).

*****

Pertanyaannya: Adakah pemimpin di dunia saat ini seperti para khalifah pada masa lalu yang mampu mensejahterakan seluruh rakyatnya tanpa kecuali? Adakah pula negara yang menganut sistem ekonomi kapitalis—juga sosialis—saat ini seperti sistem Khilafah pada masa lalu yang mampu meratakan kesejahteraan kepada semua warganya tanpa seorang pun yang miskin?

About indra Diansyah

4 comments

  1. Pingback: baltic siker

  2. Pingback: baltic siker oç

  3. Pingback: 我他媽的媽媽

  4. Pingback: 他妈的谷歌

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*